Lailatul Qadar : Anjuran Tak Memberi Tahu bagi yang Menjumpainya
Ramadhan

By MINUHASA 04 Mei 2021, 11:27:53 WIB ARTIKEL
Lailatul Qadar : Anjuran Tak Memberi Tahu bagi yang Menjumpainya

Gambar : Lailatul qadar merupakan peristiwa sekaligus pengalaman istimewa. Menyembunyikan bagi orang yang merasakannya lebih aman dari timbulnya ujub diri sendiri dan hasud dari orang lain.


Lailatul Qadar : Anjuran Tak Memberi Tahu bagi yang Menjumpainya  

Menjadi manusia mulia, berwibawa dan disegani merupakan hal yang diinginkan kebanyakan orang. Ibadah ditampakkan agar dianggap saleh, sedekahnya diumumkan agar mendapat julukan dermawan. Tindakan-tindakan demikian lebih banyak berpotensi pada hilangnya pahala ibadah. Terjebak dalam keindahan julukan di dunia semata, dan lupa pada kenyamanan nikmat dalam akhirat yang kekal selamanya.

Harus diakui, sebagai manusia dengan segala kekurangannya memang sangat sulit untuk bisa menyembunyikan kebaikan dan kelebihan yang ada pada dirinya. Hal itu mungkin hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu yang hatinya sudah lupa akan penilaian orang lain dan fokus beribadah pada yang Mahakuasa. Manusia biasa terkadang masih terngiang dalam benaknya bisikan-bisikan setan yang selalu mengajak pada tindakan yang berpotensi menghilangkan pahala ibadah. Misalnya ajakan agar menceritakan amal ibadah kepada orang lain dengan tujuan orang lain juga termotivasi dengannya. Padahal, dengan cara demikian justru lebih berpotensi menimbulkan sifat sombong dan ingin dipuji dalam hatinya. Meski juga ada sebagian orang yang justru murni ingin mengajak pada ibadah, tanpa ada sedikit pun berharap mendapatkan pujian—“disanjung tidak membuatnya terbang, dan dihina tak membuatnya tumbang.”

Lailatul Qadar sebagai malam agung, lebih mulia dari seribu bulan. Tentu sangat beruntung orang yang bisa menemukannya dan hanya orang pilihan yang Allah kehendaki untuk bisa menjumpainya. Hanya saja, sebagai bentuk menjaga pahala malam mulia tersebut, para ulama menganjurkan lebih baik tidak menceritakan kepada siapa pun terkait kejadian lailatul qadar bagi yang menemukannya. Semua itu bermula dari sebuah kejadian antara Rasulullah dan dua sahabatnya. Saat itu Rasulullah diperkenankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk memberi tahu waktu terjadinya lailatul qadar, hanya saja ada sebuah kejadian yang menyebabkan diangkatnya pemberitahuan itu.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Rasulullah SAW keluar untuk memberitahukan tentang lailatul qadar. Tiba-tiba ada dua orang dari kalangan Muslimin yang saling mencaci. Maka Rasulullah ? bersabda: ‘Aku datang untuk memberitahukan kalian tentang waktu terjadinya lailatul qadar, namun fulan dan fulan saling mencaci, sehingga kepastian waktunya diangkat (tidak diketahui). Meski demikian, semoga kejadian ini menjadi kebaikan bagi kalian. Maka, carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh, dan kelima (pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan).” (HR al-Bukhari).

Hikmah dari diangkatnya kepastian turunya lailatul qadar adalah sebagaimana disampaikan oleh Syekh Abil Fadl al-Ghumari, yaitu agar umat Islam tidak bermalas-malasan dalam beribadah, atau bahkan terjebak dalam fanatisme buta yang berakibat sama sekali tidak melakukan ibadah selama satu tahun, dengan berpedoman bahwa menjumpai lailatul qadar bisa menjadi sebab dihapusnya dosa selama satu tahun. Dengan hadist di atas, Syekh Abil Fadl al-Ghumari berpendapat bahwa disunnahkan bagi orang yang menjumpai lailatul qadar untuk tidak memberitahukan pada siapa pun.

Tokoh Muslim kelahiran Maroko (1910-1993 H) itu dalam kitab karangannya mengatakan :

“Diambil dari kisah di atas yaitu: disunnahkannya menyimpan (tidak memberi tahu tentang kejadian yang ditemukan) ketika lailatul qadar bagi yang melihatnya. Sedangkan pokok dalil (disunnahkannya menyimpan) adalah, Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh nabi-Nya (Muhammad) untuk tidak memberitahukan perihal kejadian lailatul qadar. Sementara semua kebaikan mengikuti apa yang telah ditakdirkan pada Rasulullah, maka disunnahkan untuk mengikutinya (Nabi Muhammad) dalam hal tersebut (tidak memberi tahu)” (Syekh Abil Fadl al-Ghumari, Ghayatul Ihsan fi Fadli Syahri Ramadlan, h. 43).

https://islam.nu.or.id/post/read/128565/lailatul-qadar--anjuran-tak-memberi-tahu-bagi-yang-menjumpainya?_ga=2.4783987.1553416522.1620101607-1819835329.1618542146

 

MINUHASA l Diberkahi - Dibanggakan - Dibutuhkan




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment